PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BPR



LATAR BELAKANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BPR



By  : Wangsit Supeno
Publish :  3 Juli 2016


Pengantar

Bank Perkreditan Rakyat yang selanjutnya disingkat BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998BPR merupakan lembaga keuangan yang memiliki peranan penting dalam perekonomian.
  
BPR memiliki fungsi sebagai lembaga keuangan perantara (intermediary) yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa Tabungan dan Deposito, kemudian menyalurkan dananya tersebut kepada masyarakat dalam bentuk kredit yang diberikan, dengan didasarkan pada kepercayaan dan keyakinan. Dalam menjalankan kegiatannya tersebut, BPR senantiasa menghadapi Risiko yang dapat memberikan dampak terhadap kesehatan dan keberlangsungan hidup BPR.

Perkembangan industri BPR yang semakin meningkat, dengan tingkat persaingan yang semakin tajam, dan juga kebutuhan masyarakat atas pelayanan jasa keuangan yang lebih bervariasi, mudah, dan cepat diiringi dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, mendorong BPR untuk lebih meningkatkan produk dan pelayanannya yang pada gilirannya akan meningkatkan Risiko BPR. Peningkatan Risiko ini harus diimbangi dengan peningkatan pengendalian Risiko. Penerapan Manajemen Risiko ini selain ditujukan bagi BPR juga dalam rangka melindungi pemangku kepentingan BPR.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka BPR harus melindungi kegiatan usahanya dari risiko yang berpotensi merugikan, dengan memperhatikan penerapan manajemen risiko secara benar dan konsisten, sesuai dengan regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berlaku, dan dituangkan dalam bentuk Pedoman Standar Operasional Prosedur terkait Penerapan Manajemen Risiko.

Manajemen Risiko adalah serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan Risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha BPR.

Peranan implementasi Manajemen Risiko selain sejalan dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), juga memberikan dampak yang positif  bagi internal BPR untuk menjaga agar BPR senantiasa memiliki daya tahan pada berbagai situasi. Implementasi Manajemen Risiko merupakan sebuah kebutuhan BPR dalam mengelola risiko yang dihadapi, baik pada kondisi normal maupun pada saat terjadi krisis. Agar dapat menerapkan Manajemen Risiko dengan baik, diperlukan landasan pemahaman, di antaranya memahami jenis-jenis Risiko, dampak Risiko, fungsi manajemen Risiko dalam upaya untuk mencapai tujuan operasional BPR. Dengan pemahaman tersebut diharapkan akan mempermudah dalam implementasi Manajemen Risiko dalam operasional BPR sehari-hari. Selain itu juga, dengan Penerapan Manajemen Risiko secara menyeluruh dapat memberikan dampak positif terhadap BPR, sehingga dapat terus tumbuh berkembang dengan sehat dan kokoh.



Penyusunan Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko

Maksud penyusunan Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko sebagai berikut :
1.  Manajemen sangat memahami bahwa risiko yang dihadapi dalam bisnis BPR pada saat ini semakin kompleks dan meningkat,  sehingga manajemen harus memenuhi Peraturan Otoritas jasa Keuangan Nomor 13/POJK.03/2015 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Perkreditan Rakyat.
2.  Melindungi BPR dari meningkatnya risiko operasional baik dalam penghimpunan dana maupun penyaluran dana, dan merupakan salah satu upaya memperkuat kelembagaan dan meningkatkan reputasi BPR di masyarakat, sehingga diharapkan dapat menciptakan sektor keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan.
3.  Menjadi panduan kerja bagi manajemen BPR dalam mencegah potensi risiko yang dapat menimbulkan kerugian kepada BPR dikemudian hari, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan nasabah dan dapat mencapai tujuan operasional BPR dalam rangka membangun perekonomian masyarakat.
4.   Memahami   proses  Manajemen  Risiko  melalui tata kelola Manajemen Risiko yang baik, mulai dari identifikasi, pemantauan dan pengendalian risiko.