TENTANG GRAPHOLOGY



 TENTANG GRAPHOLOGY





By : Wangsit Supeno
Dipublish :  03 Juli 2016

Sewaktu Sekolah Dasar pada pelajaran Bahasa Indonesia,  Guru saya mengajari murid-muridnya menulis elok pada sebuah buku tulis khusus yang memang disediakan untuk menulis elok tersebut, sehingga antara satu huruf dengan huruf lain menyambung rapih dan mudah di baca.

Saya masih ingat tulisan ayah saya yang bentuknya menyambung atau latin miring ke kanan. Saya juga masih ingat teman Sekolah Dasar saya yang tulisannya sangat miring ke kiri. Dan saat saya bekerja, saya juga menemukan tulisan tangan atasan saya miring ke kiri dan ada juga yang miring kekanan dengan bentuk huruf latin. 

Sewaktu saya duduk di Sekolah Menengah Pertama, saya mulai merubah tulisan tangan saya berbentuk cetak bulat berdiri tegak. Dan saat ini tulisan tangan saya tetap tegak tetapi bentuknya kombinasi antara huruf cetak dan sambung. Anak-anak saya sendiri rata-rata bentuk hurufnya cetak, ada yang kurus dan ada yang bulat.

Sebelum mempelajari ilmu Graphology yang merupakan cabang dari ilmu psikologi yang menjadi bagian dari mata kuliah psikografik ata psikodiagnostik, yang mana ilmu ini sangat berguna untuk menganalisis dan menginterpretasikan karakter seseorang, saya tidak terlalu peduli. Buat saya tulisan tangan adalah hanya bagian dari sarana komunikasi verbal. Komunikasi verbal adalah suatu kegiatan percakapan/penyampaian informasi yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan. Tulisan tangan harus rapih, dapat dibaca dan jelas isinya sehingga memudahkan dalam komunikasi. 

Saya masih ingat ketika pertama kali menyatakan perasaan saya dengan istri melalui tulisan tangan yang dituangkan disebuah kertas, waktu itu banyak dijual kertas yang bernuansa cinta yang biasa digunakan anak muda membuat surat cinta. Menulis surat Cinta dan menunggu Surat Cinta yang diantar pak pos itu sangat menyenangkan dan mendebarkan. Itu sebabnya ada lagu Surat Cinta yang dilantunkan Vina Panduwinata yang sangat terkenal di tahun 80 an, Anda masih ingat ? Nah, kemampuan daya ingat seseorang dalam ilmu Graphology juga bisa diketahui loh dari tulisan tangannya. 

Berikut ini saya tampilkan Lirik Lagu Nostalgia Vina Panduwinata judulnya, Surat Cinta yang biasa digunakan pria untuk “menembak” pujaan hatinya di tahun 80 an  :

Hari ini kugembira
Melangkah di udara
Pak pos membawa berita
Dari yang kudamba

Sepucuk surat yang manis
Warnanya pun merah hati
Bagai bingkisan pertama
Tak sabar kubuka

Satu dua dan tiga
Kumulai membaca
Surat cintaku yang pertama
Membikin hatiku berlomba
Seperti melody yang indah
Kata-kata cintanya
Surat cintaku yang pertama
Membikin hatiku berlomba
Seperti melody yang indah
Kata-kata cintanya
padaku

Ucapan semanis madu
Tiga lembar rayuannya
Rasanya tak puas hati
Kuulangi lagi

Satu dua dan tiga
Kumulai membaca
Surat cintaku yang pertama
Membikin hatiku berlomba
Seperti melody yang indah
Kata-kata cintanya
Surat cintaku yang pertama
Membikin hatiku berlomba
Seperti melody yang indah
Kata-kata cintanya
padaku

Sumber Lirik :

Asal Muasal Graphology

Sejak mendalami ilmu Graphology, saya menjadi orang yang sangat sensitif ketika melihat tulisan tangan di hadapan saya. Pikiran bawah sadar saya langsung terkoneksi untu tidak tahan melakukan analisis karakter penulisnya. Pertanyaannya, Graphology ini  sejak kapan terlahir sehingga sekarang diakui sebagai ilmu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam dunia bisnis, manajemen sumber daya manusia, maupun edukasi anak ? 

Yosandy LS dalam bukunya Dahsyatnya Tulisan Tangan, menjelaskan bahwa Graphology atau Grafologi memiliki sejarah panjang. Pada tahun 300 M, filsuf Yunani, Aristoteles telah menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara tulisan tangan, kata-kata, dan kepribadian. Dia mengatakan, “Kata-kata yang diucapkan adalah simbol dari pengalaman mental, sedangkan kata-kata yang ditulis adalah simbol-simbol dari kata-kata yang diucapkan. Sama seperti semua orang yang tidak memiliki suara yang sama, semua orang juga tidak memiliki tulisan tangan yang sama pula”. 

Tokoh-tokoh Graphology setelah Aris Toteles yang turut mengembangkan ilmu Grapholgy adalah M, C. Suetonius Tranquillus pada abad ke-2 M, dan Camillo Baldi pada tahun 1622 seorang doktor Italia di bidang kedokteran dan filsafat serta profesor di Universitas Bologna yang menerbitkan buku terkait Graphology dengan judul The Means of Knowing The Habits and Qualities of a Writer from His Letters. Buku ini berisi penjelasan mengenai kecenderungan individualistik yang diperlihatkan oleh setiap penulis. Namun, istilah Graphology sendiri sampai pada waktu itu belum dikenal. 

Akhirnya, pada tahun 1872 setelah Penelitian Abbe Michon mengenai analisis tulisan tangan yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1872 dengan judul The Mysteries of Handwriting, kemudian disusul dengan buku yang berjudul A Sistem of Graphology menjadi bacaan yang disarankan bagi mahasiswa yang ingin menekuni Graphology secara serius. Sejak itu pula, minat di bidang Graphology menyebar ke seluruh Eropah. Graphology berkembang sebelum kelahiran psikologi.

Selama dekade terakhir abad ke 19, para psikolog dan psikiatri Jerman menyimpulkan bahwa tulisan tangan sebenarnya adalah tulsan otak. Kesimpulan diambil setelah mereka mengobservasi orang yang mengalami cacat ganda sehingga tidak mampu menulis, namun dengan lancarnya membuat tanda tangan dengan menggunakan pena yang digerakkan oleh mulutnya.

Pada abad ke 30, Alfred Binet, pengembang mula-mula dari Tes Inteligensi Standford-Binet yang dikenal sekarang, telah tertarik  dengan analisa tulisan tangan dan memutuskan untuk menjadi Grafologis yang profesional. Graphology berkembang di Perancis di bawah arahan Jules Crepieuxjamin dan di Jerman di bawah arahan Ludwig Klages.