Selasa, 29 Januari 2013
Minggu, 16 Desember 2012
ANALISA KEBUTUHAN TRAINING BPR
Desember 16, 2012
WANGSIT SUPENO
EDUKASI SUMBER DAYA Training & Consultant SDM SHARE POSITIVE ARTICLE
PENTINGNYA TRAINING NEEDS
ANALYSIS (TNA) DALAM PENYUSUNAN RENCANA KERJA DIREKSI BPR
Oleh : Wangsit
Supeno, SE, MM
Bank Perkreditan Rakyat yang semakin tumbuh pesat
di tanah air dalam operasionalnya tidak terlepas dari masalah keseharian
khususnya dalam meningkatkan penghimpunan dan pelepasan dana, menjaga kualitas
pemberian kredit agar selalu sehat dan SDM yang selalu memiliki motivasi untuk
meningkatkan kinerjanya di BPR.
Pimpinan BPR memiliki tanggung jawab terhadap
keberhasilan operasional perusahaan dari segala lini. Keberhasilan akan
diperoleh jika perusahaan memiliki 3 sistem penting berikut ini yang dapat berjalan dengan baik yaitu :
1. Sistem
perekrutan dan pengembangan SDM
Sebuah perusahaan yang hebat harus didukung oleh
SDM yang juga hebat. Dalam hal ini BPR sebagai sebuah perusahaan jasa keuangan
yang dituntut melayani publik dengan prima, tentunya SDM menjadi bagian sangat
fundamental yang akan menentukan keberhasilan operasional BPR.
BPR yang tidak memiliki sistem perekrutan dan pengembangan SDM yang baik akan terancam dengan tingginya biaya tenaga kerja yang tidak produktif dan pastinya akan in efisiensi yang bisa membabat profit BPR dalam waktu sekejap.
2. Sistem Kontrol yang Akurat
Fakta sudah membuktikan, frauds atau penyimpangan dapat membuat BPR mengalami masalah dalam
operasionalnya. SDM lagi-lagi memiliki peran penting terjadinya penyimpangan
di BPR. Integritas begitu penting dalam bekerja di BPR yang ketat dengan
peraturan tetapi selalu saja ada celah dilanggar.
Sistem kontrol yang akurat dan dipatuhi secara konsisten baik oleh atasan maupun bawahan akan menjadikan BPR tumbuh pesat secara aman, sehat dan memberikan jaminan kepada para deposan dan kreditur untuk terus berinvestasi dan meminjamkan dananya disana karena semua SDM yang terlibat di dalam BPR adalah SDM yang penuh tanggung jawab, integritas tinggi, loyal dan memiliki rasa sence of belonging (rasa memiliki) sehingga memunculkan rasa bangga bekerja di BPR.
3. Sistem Marketing yang Handal
Tujuan operasional BPR sekurang-kurangnya ada lima
yaitu, membangun perekonomian lokal, meningkatkan laba dengan ROA yang terus
meningkat, memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat dan nasabah,
memberikan kesejahteraan kepada SDM yang memajukan organisasi, dan memberikan
ROE yang tinggi kepada owner.
Sistem Marketing yang baik dengan memperhatikan 4 P (Product, Price,
Promotion dan Place) + 1 P (Personal yang Kompeten)
menjadi sangat penting dalam menumbuhkan BPR yang sehat dalam jangka pendek
maupun jangka panjang. Dalam pelaksanaan dilapangan strategi marketing sehebat
apapun tidak akan berjalan baik tanpa dukungan SDM yang handal.
Mengapa Pimpinan BPR Harus MelakukanTraining Needs Analysis (TNA) dalam Penyusunan Rencana Kerja Tahunan Direksi ?
Beberapa alasan yang mendasari perlunya pimpinan BPR melakukan TNA yaitu
:
1. Untuk memastikan apakah sebuah permasalahan yang terkait dengan kinerja
karyawan atau kinerja BPR dapat diatasi dengan diadakannya training seiring
dengan upaya pencapaian target kerja
Direksi satu tahun ke depan.
2. Jika training menjadi solusi atas sebuah permasalahan kinerja karyawan
maka harus diberikan sesuai dengan kebutuhan. Dengan adanya TNA maka tidak akan
terjadi kesalahan dalam menetapkan tujuan, materi dan metode training, maupun
dalam menentukan peserta training.
3. Setiap training yang dilaksanakan oleh suatu BPR atau yang diikuti oleh
SDM BPR terkait dengan tugasnya seharusnya akan mendukung strategi perusahaan
dalam mencapai tujuannya.
4. Dengan TNA yang tepat dan sesuai kebutuhan maka anggaran pelatihan yng
dimiliki BPR akan bermanfaat dan tidak terkesan dihabur-hamburkan.
Ruang Lingkup
Training Needs Analysis (TNA)
Training Needs Analysis yang disusun oleh pimpinan
BPR dalam satu tahun terdiri atas tiga elemen, yaitu :
1. Analisis
pada level organisasi
Hal yang diungkapkan pada level organisasi yaitu :
a. Jika pimpinan BPR menempatkan karyawan sebagai bagian dari strategi
untuk mencapai tujuan penyaluran dana secara berkualitas dan menguntungkan,
maka pengadaan training di bidang perkreditan yang meliputi pemasaran,
manajemen kredit, manajemen collection dan manajemen customer paska pemberian
kredit adalah salah satu cara terbaik yang dapat dilaksanakan BPR untuk
meningkatkan keterampilan teknis petugas kredit dalam meningkatkan penjualan
produk dan memproses kredit serta melakukan penagihan secara benar yang akan
memberikan efek positif bagi pencapaian realisasi target rencana kerja Direksi.
b. Adanya support dari manajemen kepada karyawan yang akan disertakan dalam
training dan menerapkan hasil pelatihan dalam pekerjaan sehari-hari.
c. Kesiapan BPR untuk menyelenggarakan suatu training, termasuk kesiapan
penyediaan anggaran, peserta, provider training yang pelaksanaannya tanpa
mengganggu kinerja perusahaan.
2. Analisis
pada level tugas
Analisis pada level tugas yang disusun oleh
pimpinan BPR bertujuan :
a. Mengidentfikasi divisi mana sajakah yang dinilai belum sejalan dengan
strategi organisasi dalam mencapai target kerja pada tahun sebelumnya dan pada
tahun ini harus dikembangkan melalu training yang sesuai kebutuhan devisi
tersebut.
b. Menentukan elemen dari tugas-tugas tertentu yang diperkirakan perlu
diberikan training. Elemen tersebut seperti knowledge dan skill tentang teknis
marketing produk BPR, proses pemberian kredit BPR, pelayanan nasabah BPR, dan
Motivasi yang dapat meningkatkan soft skill yang berdampak pada terbangunnya
inner motivation untuk bekerja habis-habisan, memiliki attitude atau sikap yang
baik, memiliki
integritas dan komitmen agar kinerjanya memuaskan dan memberikan kontribusi positif terhadap BPR.
Kinerja karyawan ditentukan oleh 3 faktor yaitu :
a. Ability,
Berhubungan dengan potensi karyawan, kemampuan dan keterampilan yang
dimiliki seorang karyawan dalam menyelesaikan tugasnya dengan baik.
b. Motivation,
Berhubungan dengan kemauan yang dimiliki seorang karyawan sehingga
mendorong dirinya untuk dapat menyelesaikan tugas yang diembannya dengan
sebaik-baiknya sesuai yang diharapkan perusahaan.
c. Opportunity,
Adanya kesempatan yang diberikan kepada karyawan untuk menyelesaikan
tugasnya sesuai job description yang jelas, sarana yang tersedia untuk
kelancaran kerja dan lingkungan kerja yang nyaman.
3. Analisis
pada level individu karyawan
Analisis pada level individu karyawan dilakukan
untuk menentukan siapa saja karyawan yang membutuhkan training, hal terkait
kedudukannya pada level organisasi dan level tugas. Untuk memperkuat analisis
bisa dilakukan dengan cara membuat kuesioner, di mana dalam kuesioner tersebut
diungkapkan apa saja sebab sebab yang menjadikan hambatan sehingga kinerja
tidak maksimal.
Mengapa Training
sangat diperlukan BPR ?
Fokus dari training adalah adanya kebutuhan untuk pengembangan
sikap, mental, perilaku, pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan tugas
dan wewenang karyawan yang diberikan perusahaan sehingga akan membantu dalam
melancarkan a`ktivitas sehari-hari dan memberikan hasil yang memuaskan.
Pemilihan
model training lebih dilihat pada rendahnya biaya pelatihan bukannya pada
kualitas training itu sendiri. Akibatnya, dana pelatihan keluar sedikit tetapi
hasilnya tidak memberikan dampak apapun terhadap perusahaan, lalu disimpulkan
bahwa training hanya mengamburkan waktu dan uang.
Nara sumber pemberi training menjadi sangat penting jika kebutuhan akan
pengembangan karyawan sesuai dengan strategi perusahaan dalam rangka mendukung
pencapaian rencana kerja Direksi. Nara sumber haruslah orang yang profesional
dibidangnya dan memiliki pengalaman langsung dibidang usaha BPR, termasuk
dibidang training sehingga transfer ilmu akan lebih mudah dan sangat aplikatif
di BPR.
Kompetensi
yang dibutuhkan perusahaan termasuk BPR tidaklah hanya yang berifat Hard
Competencies yang berhubungan dengan keterampilan teknis pekerjaan, akan tetapi
juga yang bersifat Soft Competencies (Kompetensi yang berkaitan dengan prilaku
dan motivasi kerja karyawan) ini perlu mendapatkan perhatian. Hasil penelitian
membuktikan hampir 80% kesuksesan seseorang didasarkan pada Internal Motivation
atau Soft Competencies yang berhasil dibangun dalam dirinya sendiri, dan hanya
20% saja kompensi teknis yang dikuasai. Sehebat apapun keterampilan Account
Officer dalam marketing dan pelayanan, jika tidak ada motivasi yang kuat dalam
dirinya untuk melampaui target kerja, maka keahlian itu tidak akan pernah
bernilai apa-apa.
Dengan demikian, pelatihan merupakan suatu tuntutan
kebutuhan yang tidak bisa ditunda tetapi harus disusun secara teratur dan
direncanakan secara matang melalui Training Needs Analysis (TNA) yang tepat. Hal inilah yang menjadikan pelatihan atau training diyakini
sebagai kebutuhan penting untuk mampu mengatasi persoalan dalam kelancaran aktivitas
pekerjaan sehari-hari sebagai strategi dalam rangka mencapai rencana kerja yang telah ditetapkan oleh Direksi. (Wangsit Supeno-161212).
Selasa, 04 September 2012
MOTIVASI SUKSES SELF MOTIVATION
September 04, 2012
WANGSIT SUPENO
INGIN ATAU HARUS
Wangsit Supeno, ESD
“Keinginan yang diperkuat dengan doa
akan melahirkan impian yang menjadi tujuan hidup sehingga menumbuhkan keharusan dan keyakinan untuk mewujudkannya melalui tindakan yang efektif“ (Positif Inspiration From Wangsit
Supeno-Salam Embahnya Super Dahsyat )
Seorang anak kecil sekitar usia 3
tahun menangis histeris ketika ibunya melarang anaknya minta dibelikan balon
gas, dan ketika pedagang balon itu sudah pergi jauh akhirnya ayah si anak
bergegas mencari pedagang balon tersebut dan ketika balon tersebut sudah dibeli
dan diberikan kepada si anak, maka sianakpun berhenti menangis dan tak lama kemudian
ia tertawa bersama teman-temannya. Ilustrasi ini menggambarkan perbedaan antara
“Ingin” dan “Harus”. Anak
kecil tersebut telah berhasil dengan caranya mengubah pikiran kedua orang
tuanya yang semula melarang jadi menyetujui untuk meminta balon yang
diingininya dan menjadikan keharusan untuk dimilikinya. Masih untung sianak
kecil tidak bilang, “saya maunya yang warna merah, enggak mau yang hijau !”.
Coba kalau dia minta warna yang sesuai visualisasinya, si ayah mungkin akan bingung atau mungkin
akan ngomel duet dengan isterinya, karena situkang balon sudah pergi entah
kemana, yang pada akhirnya sianak menerima juga meski dalam keadaan tertekan.
Ilustrasi cerita di atas menunjukkan anak
tersebut sangat kreatif, kecil-kecil sudah terlihat kekuatan karakternya yang target oriented. Sebab faktanya ada juga
seorang anak kecil yang menangis meminta balon dan dia mendadak berhenti
menangis manakala sang ayah cuma bilang seperti ini, “Sssstt..jangan beli balon
karena bisa meledak...duarrrrr....!” si anak jadi ciut hatinya.Nah, tahukah Anda efek dari
ucapan si ayah tersebut ? sianak akan memvisualisasikan gaya sang ayah yang
pura-pura terluka karena balon yang pecah, dan bila cara ini terus dilakukan
oleh sang ayah untuk menunjukkan bentuk ketidak sukaan, maka niscaya sianak
ketika sudah dewasa akan takut menyentuh balon. Ditelinganya selalu terngiang
suara ayahnya yang selalu mengingatkan bahayanya berhubungan dengan balon dan
menjadi tungku mental hingga dewasa. Biasanya seorang therapist yang
berpengalaman akan bisa membantu mengatasi tungku mental tersebut.
Manusia Istimewa
Saya ingin mengajak Anda merenungi,
bahwa pada dasarnya kita ini dilahirkan sebagai manusia yang sempurna, istimewa
dan layak memiliki apa yang kita inginkan baik yang bersifat materi maupun spiritual,
asalkan disertakan dengan kata “Harus”. Apa sebabnya ?
Mohon Anda ingat kalimat
berikut ini. Jika Anda baru sampai pada level “Ingin”, maka itu sifatnya hanya sementara
karena ada di pikiran sadar yang mudah berubah seperti halnya daun kering yang jatuh
lalu tertiup angin begitu mudah terbang entah kemana. Kita jadi kalah mental
oleh situasi dan kondisi yang menekan pikiran, dan hati mudah jadi ciut lalu diikuti
rasa takut, khawatir, ragu-ragu karena dipengaruhi visual kita yang kerap
membayangkan kegagalan dan atau mendengar suara kekecewaan hidup orang lain. Sebaliknya Kata “Ingin” yang diikuti
dengan kata “Harus” akan melekat dan tersimpan di dalam pikiran bawah sadar
seseorang, seperti halnya semen yang menyatu dengan pasir sehingga bisa merekatkan
susunan batu bata, dan tidak heran jika sebuah bangunan bisa berdiri kokoh dan sanggup menahan hembusan angin selama
bertahun-tahun lamanya.
Pertanyaan
saya, apa sih yang dikerjakan seseorang sebelum mendirikan sebuah bangunan? Jawabnya
adalah, merancang gambar bangunan yang dibuat secara matang oleh seorang
arsitek yang kreatif dan cerdas. Dalam rancangan itu terlihat kerangka gambar
dengan perhitungan yang detail sesuai visualisasi yang ada dalam pikiran sang
arsitek, sehingga pada saat pelaksanaan rancangan itu menjadi pedoman kerja. Kita
adalah arsitek yang bisa merancang bentuk bangunan kehidupan kita sehingga bisa
setinggi, sebesar dan sekokoh apa yang kita inginkan dan, tetapi ingatlah ada
keharusan untuk mewujudkannya dengan cara melakukan tindakan yang efektif melalui
penggunaan potensi Kekuatan Karakter
dan Mindset yang selama ini
terpendam dalam diri kita secara optimal. Diperlukan bentuk kreatifitas dan
kecerdasan dalam pelaksanaannya, dan semua potensi itu ada dalam diri kita
sendiri sebagai anugerah Tuhan agar kita menjadi manusia yang istimewa. Anda
setuju ! Anda dan saya adalah orang yang Super Dahsyat ! Itulah Fakta Hidup !
Success
Share
Mohon Anda tuliskan diselembar kertas
5 (lima) Keinginan yang berhubungan dengan peningkatan nilai hidup Anda dalam
pekerjaan, percintaan, keluarga, kesehatan atau spiritual. Kemudian kerucutkan
menjadi 2 (dua) prioritas utama yang
menjadi keharusan bagi Anda untuk mewujudkannya dalam hitungan waktu yang jelas,
dan sebutkan apa alasannya harus diwujudkan. Sekarang tuliskan dalam bentuk sketsa di
selembar kertas putih lalu imajinasikan dalam kondisi mata terpejam nikmatnya
jika apa yang jadi keharusan terwujud, ekspresikan dengan senyum lalu tutup
dengan doa. Fakta hidup bahwa orang sukses memulai segalanya dari sebuah
imajinasi yang dikuatkan dengan doa dan dirancang sebagai tujuan hidup sehingga
menghasilkan energi positif yang selalu bisa menguatkan langkahnya dalam segala
keadaan dengan cara-cara yang benar.
Pelatihan Leadership
Penawaran program pelatihan untuk Team Leader BPR yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja tim dengan kepemimpinan yang profesional sehingg...

