Rabu, 23 Juli 2014

BAYANGKAN DAN RASAKAN SUASANA TRAINING KAMI


MOTIVASI ORANG MUDA



MOTIVASI JIWA ORANG MUDA
KENAPA HARUS  BERANI MENEROBOS SUKSES ?
Oleh : Wangsit Supeno, MM, CRBD, CH., CHt., CNNLP.





Kenapa harus Berani Menerobos sukses ? , itu sebuah judul pilihan artikel Motivasi Jiwa Orang Muda.  Judul ini kok menurut saya akan memunculkan asosiasi bayangan dipikiran Anda, seperti halnya sebuah kendaraan yang sedang melaju kencang di jalan raya ibu kota, tiba-tiba menemui kemacetan, lalu pengemudi kendaraan itu melihat di sebelah kanan ada jalur yang kosong, dan si pengemudi kendaraan tanpa pikir panjang, membawa kendaraannya menerobos jalur kosong itu yang ternyata jalur itu adalah jalur bis trans hanya untuk sampai lebih cepat, tetapi sayangnya belum tuntas jalur itu dilewati ada yang menghentikan laju jalan kendaraan itu, dan di sana berdiri seorang pria tegap berbaju coklat dan memegang buku tilang. Apa mau dikata mau cepat eh malah kena tilang. Betul apa betul ya, jangan-jangan ada yang bilang, akh itukan lagi apes aja biasanya juga aman. Nah…nah.. ini namanya orang yang suka mencari pembenaran sendiri. 

Maksud kata “Menerobos” dalam tulisan saya ini tidak  untuk meminta kepada Anda melakukan tindak pelanggaran. Kata menerobos seperti yang saya maksud dalam judul tulisan saya ini adalah, bagaimana Anda bisa menemukan jalan-jalan pintas karena Anda memiliki pengetahuan lebih dan kecerdasan yang tersistem sejak masih muda, di banding rata-rata kebanyakan orang yang mau tidak mau merasakan kesulitan berkepanjangan dalam mencapai tujuan. 

Pengalaman hidup saya mengajarkan bahwa sungguh tidak enak kalau kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup atau memiliki keterbatasan pengetahuan, melamar kerja sana sini sulit diterima, kalaupun sudah diterima maka penghasilan yang menjadi hak dipermainkan. Tekad itu harus terus membara, saya harus berani menaklukan ibu kota, harus bisa keluar dari himpitan dan kesulitan hidup. Hinaan yang masih terngiang ditelinga hingga kini adalah pemicu semangat untuk terus menunjukkan kemampuan saya dalam mencapai hasil terbaik dan menjadikan hidup lebih bernilai, tidak hanya untuk diri saya sendiri tetapi kepada sebanyak-banyak orang yang ingin bersama membangun jiwa yang saling menyemangati. Saya menyadari begitu sulitnya saya harus menyelesaikan kuliah karena terbentur biaya, tetapi tekad saya kuat harus selesai dan bisa membantu orang tua. Saya meyakini bahwa setiap kesulitan adalah mutiara yang terpendam yang akhirnya akan saya bisa nikmati hasilnya pada saatnya nanti. Usia tidak menyurutkan saya untuk terus meningkatkan keilmuan saya di perguruan tinggi. Saya akhirnya bisa mendapatkan gelar sarjana setelah berusia 36 tahun dan dikelas saya adalah yang paling senior usianya.

Saya sangat suka mempelajari perjalanan dan pengalaman hidup orang-orang sukses. Itu adalah penyemangat dan sumber gagasan. Saya menginginkan Anda juga mau mempelajari pengalaman orang-orang hebat yang telah sukses sesuai dengan apa yang ingin Anda idolakan, agar Anda tidak lagi perlu melalui perjalanan panjang seperti mereka. Anda bisa gunakan tips  yang saya peroleh dari seorang Trainer No. 1 di Indonesia Tung Desem Waringin yaitu ATM“Amati Tiru dan Modifikasi “ . Nih satu lagi tips dari Mario Teguh yang saya peroleh saat mengikuti Typing Golden Ways , yaitu 3 N kepanjangannya Niteni (mengamati), Neroke (Tiru) dan Nambahi (Modifikasi), tuh kan dua orang sukses itu ternyata punya resep yang sama lho, Nah kenapa kita tidak mau ikutin. 

Saya juga banyak belajar dari kesuksesan Andre Wongso, James Gwee, Adi W Gunawan, Dedy Susanto, Ariesandi S, Iwan D Gunawan  dan banyak Trainer dan Motivator hebat dalam dan luar negeri, dan kini saya bisa merasakan hasilnya setelah melalui sebuah proses pembelajaran dan kesabaran. Saya bisa mengikuti jejak mereka dengan jati diri saya dan pengetahuan yang saya serap dari mereka. Saya berani menerobos kenyamanan, dan kini saya bisa keliling Indonesia tanpa harus keluar uang malah dapat uang, karena apa ? padahal dulu saya hanya orang kantoran, karena saya ketularan dengan mereka, karena saya berpikir ingin seperti mereka dan karena saya yakin bisa seperti mereka dengan karakter saya sendiri, saya bisa menunjukkan kemampuan saya dalam berbagi ilmu dan kreatif dalam melakukan pengembangan produk dan marketing. Anda pasti bisa, dan saya yakin Anda mampu melakukannya jauh lebih hebat dari saya.

Salam Embahnya Superdahsyat.



Bersambung ……….

WASPADAI MELEMAHNYA DAYA INGAT



WASPADAI MELEMAHNYA DAYA INGAT

Oleh  : Wangsit Supeno, MM, CRBD, CH., CHt., CNNLP

 
http://tribayu11.blogspot.com/2014/03/

Memori seseorang memburuk seiring dengan bertambahnya usia, akan tetapi memori visual bertahan lebih lama dibandingkan dengan memori kata.  Ini adalah contoh lain dari lingkaran aneh dalam kehidupan manusia mulai dari botak, kaki gemetar, ompong, serta kebiasaan lain pada saat bayi dan pada saat jompo. Dan tampaknya, demikian juga yang terjadi pada memori visual.

Beberapa dari Anda yang membaca tulisan ini akan menjadi terbiasa menggunakan mata fikiran dalam berfikir. Akan tetapi sebagian lagi mungkin hanya mengandalkan bahasa sehingga mata fikiran anda bekerja dengan lambat. Ini disayangkan, terutama bagi Anda yang sudah mencapai usia 40 atau 50 tahun saat memori Anda mulai mengecewakan Anda. Memeori tersebut tidak akan mengecewakan Anda jika Anda mulai menggunakan mata fikiran dan imajinasi multi sensorik tanpa kata.

Memang sangat menarik membedakan otak orang tua dengan anak muda saat mereka mengingat sesuatu. Perhatikan kata-kata berikut dan silahkan di baca pelan-pelan : Roti, Sofa, Wortel, Susu, Ikan, Apel, Kursi, Rak dan Meja. Sudah  dibaca ? baik sekarang tutup mata Anda dan mulai menghafal. Coba cek berapa kata yang masih terlupa saat Anda menghafal. 

Nah, sekarang kita lihat lagi cara Anda menghafal. Pertanyaan saya, apakah Anda menghafal mentah-mentah begitu saja, kemudian saat mengingatnya kembali Anda menyebutkannya hanya seingatnya saja tidak berurut. Atau, apakah Anda ketika membaca kata-kata itu kemudian Anda membagi dua kategori dalam pikiran Anda, yaitu kategori makanan (roti, sofa, wortel, susu, ikan dan apel) dan perabot rumah tangga (sofa, kursi, rak dan  meja) ? Jika Anda melakukan dengan cara kedua, maka akan lebih mudah Anda menghafalkannya.

Salah satu sebab melemahnya memori seiring dengan usia adalah karena kita seringali menjawab informasi yang datang tidak dengan kemampuan otak yang sama seperti yang sudah kita terapkan saat kita masih muda yang tidak terbiasa mempelajari suatu cara yang baru. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menjaga kondisi memori kita ? Cara yang paling praktis adalah dengan belajar mengkategorikan sesuatu dan mengkaitkannya dengan sesuatu yang telah kita ketahui. Proses ini disebut dengan depth encoding, seperti yang dikemukakan oleh seorang psikolog kognitif Fergius Craik dan rekan-rekannya dari University of Toronto. 



PENTINGNYA KUALITAS PIKIRAN



PENTINGNYA KUALITAS PIKIRAN
Oleh :  Wangsit Supeno, MM, CRBD, CH., CHt., CNNLP





Berpikir itu sederhana dan hanya butuh waktu sekejap. Namun, ia memiliki proses yang kuat. Berpikir melahirkan pengetahuan, pemahaman, nilai, keyakinan, dan prinsip. Pikiran menjadi titik tolak bagi tujuan dan mimpi-mimpi. Ia menjadi referensi rasional dalam eksperimentasi, perjalanan hidup, pemaknaan, serta cara memahami kebahagiaan dan kesengsaraan. Pikiran bisa jadi penyebab penyakit kejiwaan dan fisik. Pikiran bahagia membuat kita bahagia dan pikiran sengsara membuat kita sengsara. Pikiran takut membuat kita takut dan pikiran berani membuat kita berani. Socrates berkata, “Dengan pikiran, seseorang bisa menjadikan dunianya berbunga-bunga atau berduri-duri.” Pikiranlah yang menjadi pendorong setiap perbuatan dan dampaknya. 

Pikiranlah yang menentukan kondisi jiwa, tubuh, kepribadian, dan rasa percaya diri. Pada tahun 1986, sebuah penelitan dari Fakultas Kedokteran di San Fransisco menyebutkan bahwa lebih dari 80% pikiran manusia bersifat negatif. Hasil penelitian ini memperkuat pernyataan bahwa nafsu cenderung menyuruh kepada keburukan. Pikiran negatif itu turut memengaruhi perasaan, perilaku, serta penyakit yang mendera jiwa dan raga. Jika demikian, kita harus ekstra hati-hati dalam memilih pikiran di benak kita.

Jika manusia benar-benar tidak ingin meletakkan sesuatu yang berbahaya dalam tubuhnya, mengapa ia mengisi pikirannya dengan hal-hal yang berpengaruh negatif pada setiap aspek hidupnya, termasuk kesehatan jiwa dan raganya ? Hal ini bergantung pada proses sebelumnya yaitu orang tua, keluarga, lingkungan, pendidikan dan media informasi.


Pentingnya Kualitas Pikiran

Adi W Gunawan seorang pakar Mind Technology, menyatakan bahwa manusia adalah mahluk mental. Semua aspek dalam kehidupan kita ditentukan dan dikendalikan oleh kualitas pikiran kita. Saat lahir, kita mempunyai satu triliun sel otak. Semua manusia mempunyai jumlah sel otak yang sama. Yang membuat hidup seseorang berbeda dengan yang lain adalah kemampuan berpikir yang dimiliki masing-masing individu.

Nilai pikiran bergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Setiap manusia mempunyai pikiran. Pikiran bisa menjadi kawan maupun lawan. Semua bergantung pada “ANDA” yang berada dibalik pikiran itu. Cara kita menggunakan pikiran merupakan faktor yang sangat menentukan kualitas hidup kita. Jika kita mengubah kualitas pikiran kita, maka secara otomatis kualitas hidup kita juga akan berubah. Kita menciptakan realitas kita berdasarkan kemampuan berpikir.

Pikiran adalah sebuah instrumen berpikir yang sangat canggih. Namun, sayang banyak orang kehilangan kendali atas instrumen itu. Contohnya, saat kita sulit tidur. Walaupun tubuh kita ingin istirahat, namun pikiran kita “berkeliaran” tanpa bisa kita kendalikan. Walaupun kita berkata “STOP” pada pikiran Anda, pikiran tetap saja berlari semaunya sendiri. Pikiran tidak mau mentaati perintah dan kita tidak berdaya mengendalikannya. Mengapa bisa seperti ini ?

Semua itu terjadi karena kita telah membiarkan pikiran kita mengendalikan diri kita, dan bukan sebaliknya. Akibatnya, pikiran kita tidak dapat bekerja dengan benar. Kita harus belajar menggunakan pikiran seperti kita menggunakan tangan dan kaki. Kaki dan tangan kita dapat kita kendalikan dengan baik dan bekerja demi keuntungan atau kebaikan kita. Sama halnya dengan pikiran. Kita harus mampu mengendalikan pikiran demi keuntungan kita.

Berpikir tidak memiliki batas, lintas waktu, jarak, dan ruang. Pikiran memiliki kekuatan yang bisa muncul pada pagi, siang, dan sore dalam kondisi apapun. Pikiran adalah sumber pendorong perilaku, sikap, dan hasil yang kita dapatkan. Pikiran dapat menjadikan Anda sebagai seorang berjiwa sehat atau sakit. Pikiran dapat menjadikan Anda mampu membangun tata kehidupan yang sehat atau sebaliknya. Pikiran dapat menjadikan Anda sebagai orang tua teladan atau sebaliknya. Pikiran dapat menjadikan Anda sebagai karyawan atau pimpinan yang berprestasi atau sebaliknya. Semua itu bergantung pada bagaimana Anda merencanakan tujuan dan merealisasikannya. Plato mengatakan, “Sumber setiap perilaku adalah pikiran. Dengan pikiran kita bisa maju atau mundur. Dengan pikiran kita bisa bahagia atau sengsara.”

Dualisme Kerja Pikiran

Jika dalam kehidupan Anda tidak meraih kebahagiaan dan kesuksesan, berarti ada yang berjalan tidak semestinya di dalam pikiran Anda. Dalam hal ini, ada program yang salah dalam pikiran bawah sadar Anda, karena pikiran bawah sadar Anda mengendalikan 90% kehidupan Anda.

Saya ingin memberikan gambaran tentang pikiran sadar dan bawah sadar. Analoginya seperti ini. Ketika Anda akan mengerjakan sebuah laporan berbentuk tabel-tabel perhitungan keuangan, maka Anda memerlukan komputer atau laptop yang sudah terinstal software Excel, betul ya. Nah setelah ter-install, maka anda tinggal klik short cut Excel, selanjutnya Anda tinggal meng-input datanya. Pertanyaan saya, ketika Anda melakukan input data dengan angka yang salah, apa hasilnya ? hasilnya tentu perhitungan di program excel itu juga salah. Sebaliknya jika data angkanya benar, maka hasilnyapun benar. Nah, yang dimaksud dengan pikiran bawah sadar adalah program soft ware Excel, program itu tinggal mengeksekusi apa yang di input angkanya oleh Anda. Sedangkan Anda sendiri selaku orang yang melakukan in put data, disebut dengan pikiran sadar. Jadi apapun yang di in put pikiran sadar akan dieksekusi oleh pikiran bawah sadar, benar ataupun salah.

Untuk menjelaskan cara kerja pikiran, saya mengutip dari Adi W Gunawan yang menjadi salah satu acuan saya dalam mempelajari ilmu mind technology dalam bukunya yang berjudul The Secret of Mindset dan Manage Your Mind for Success. Menurut Adi W Gunawan, kita mempunyai dua macam pikiran, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Para pakar di bidang pikiran mengatakan bahwa dalam kondisi normal, peran pikiran sadar dalam dalam mengendalikan semua perilaku manusia adalah hanya sebesar 12%. Sedangkan pikiran bawah sadar adalah sebesar 88%.  Pikiran sadar dan bawah sadar Sebenarnya saling memengaruhi dan bekerja secara bersamaan dengan kecepatan yang sangat tinggi pada waktu yang bersamaan.

Pikiran sadar adalah pikiran rasional, sedangkan pikiran bawah sadar adalah pikiran irasional. Apa yang dipikirkan oleh pikiran sadar akhirnya akan masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Apapun pikiran (perintah) yang masuk ke dalam pikiran bawah sadar maka pikiran bawah sadar akan segera melaksanakan pentah ini, tanpa pernah mempertanyakan apakah perintah ini benar atau salah, apakah pikiran ini menguntungkan atau merugikan.

Hukum Pikiran berbunyi :
“Anda akan mendapatkan aksi atau respons dari pikiran bawah saadar Anda sesuai dengan pikiran atau ide yang ada di pikiran sadar Anda. Pikiran bawah sadar melakukan semua hal yang dibutuhkan untuk bisa mewujudkan apapun perintah yang masuk ke dalamnya”.

Kamis, 10 Juli 2014

ARTIKEL KESEHATAN JIWA : MEWASPADAI PENYAKIT PSIKOSOMATIS



MEWASPADAI PENYAKIT PSIKOSOMATIS


Penulis   :   Wangsit  Supeno, MM, CH, CHt, CNNLP
Edisi       :   10 Juli 2014


Bersama Guru Penemu Terapi Instant Change Technique (ICT) Ariesandi Setyono


Beberapa tahun yang lalu seorang sahabat baik saya, mengajak saya untuk mengikuti acara preview workshop Instant Change Technique (ICT) yang berbasis Hipnoterapi. Dan ketika saya mengikuti preview workshop Instant Change Technique (ICT) tersebut, saya bertemu sosok pria ramping berkacamata yang ramah bernama Ariesandi Setyono. Ia seorang pendiri Akademi Hipnoterapi Indonesia (AHI). 

Dalam acara preview itu, saya menyaksikan langsung Ariesandi menangani seorang anak yang terkena masalah phobia binatang kecoa. Wah, kalau kecoa sih buat saya tidak ada masalah meskipun kecoa bukan jenis hewan yang saya sukai. Berbeda dengan anak itu, ia begitu histeris ketakutan ketika melihat kecoa. Saya jadi teringat dengan teman SD saya dulu yang takut dengan ayam hidup, kecuali kalau sudah digoreng ia tetap suka. Atau mantan murid privat saya yang jijik jika tersentuh surat kabar. Penyakit aneh pikir saya saat itu yang  tidak memahami tentang penyakit psikosomatis yang salah satunya disebut phobia.

Proses terapi penyembuhan phobia itu berlangsung cepat sekitar 15 menit seperti sedang “ngobrol” saja ….bla..bla…bla…, dan beberapa waktu kemudian diambil dan diperlihatkan kecoa itu untuk pembuktian apakah terapinya itu berhasil. Walhasil paska terapi si anak mulai tenang dan pelan-pelan berani melihat kecoa dan menyentuhnya, tidak sehisteris sebelumnya. 

Kunci kesembuhan dalam penanganan terapi psikosomatis dengan ICT sebenarnya terletak pada tingkat keyakinan dan kemauan sipenderita. Seorang terapis hanyalah perantara saja

Paska mengikuti preview, Saya memutuskan mengikuti workshop “Instant Change Technique”  atau ICT. Metode ICT merupakan terobosan hebat dan cepat yang dilakukan Ariesandi dalam menyembuhkan berbagai masalah penyakit psikosomatis, bahkan juga mengatasi masalah hambatan mental di bidang keuangan, karier, bisnis dan berbagai masalah perilaku.  Teknik ini sudah teruji sejak tahun 2007  dalam ruang praktek pribadi Ariesandi,  seorang pakar Peak Performance Coach dan Pendiri Akademi Hipnoterapi Indonesia (AHI). Wow, mantap artinya saya belajar dengan orang yang tepat. 

Dalam workshop ICT yang saya ikuti, Peserta pelatihan diwajibkan membawa teman atau saudara atau siapapun yang sedang memiliki masalah psikosomatis untuk praktek penyembuhan. Dan yang terpenting setelah mengikuti pelatihan ICT tersebut saya yang memiliki penyakit psikosomatis phobia minum obat, bisa disembuhkan sampai sekarang. Prosesnya cepat hanya dalam kisaran waktu 15 menit seperti “ngobrol” saja di ruang pelatihan.

Awalnya terasa aneh mengapa kok begitu mudah dan cepat ya mengatasi masalah penyakit Phobia dengan metode ICT, tetapi ini fakta lho, sekali lagi syaratnya simpel, ada keyakinan dan kesediaan klien membuka diri untuk kesembuhan dirinya sendiri dalam mengatasi masalah mental sampai ke akar-akarnya yang terdalam dan kadang sudah menahun. Tugas seorang terapis ICT adalah bagaimana dengan komunikasi yang tepat dapat menggali “Rasa” yang memunculkan masalah dalam diri klien psikosomatis, dan itulah yang dibereskan. Sangat ilmiah tanpa campuran klenik atau mantera-mantera yang melanggar ajaran agama.

Phobia sebagai Penyakit Psikosomatis 

Penyakit phobia  adalah salah satu penyakit psikosomatis yang cukup banyak terjadi di sekitar kita dan akan terus terjadi di sepanjang hidup penderita jika tidak dibereskan dengan cara terapi. Penyakit phobia, terkesan memalukan buat penderitanya. Sipenderita terkadang enggan untuk menyampaikan keluhannya. Rekan-rekannyapun merasa aneh, bahkan ada yang menggoda dengan mendekatkan benda atau lainnya yang ditakuti sipenderita, nampaknya lucu untuk orang sehat tetapi sebuah penderitaan untuk diri sipenderita. 

Contoh penyakit yang saya tangani adalah phobia dengan cabe merah, tebu, pelangi, aroma durian, naik pesawat, ketinggian, jijik makan bubur kacang ijo, kegelapan, hewan seperti kucing, kecoa, tidak bisa tidur, tidak suka makan ikan dan sebagainya. Termasuk saya sendiripun pernah mengalami phobia dengan minum obat berbentuk kaplet atau kapsul yang telah berlangsung sekitar tujuh tahun. Umumnya penyakit phobia terjadinya sudah menahun, bahkan ada yang dirasakan sejak masih kecil sekitar usia 5 atau 7 tahun. 

Ciri psikis orang yang terkena phobia adalah munculnya rasa cemas atau panik, tetapi tanpa dasar yang jelas, sedangkan ciri fisik misalnya : gemetar, jantung berdebar-debar, terkadang disertai nafas tersengal-sengal. 

Dari beberapa sumber yang saya pelajari, Istilah "phobia" berasal dari kata "phobi" yang artinya ketakutan atau kecemasan yang sifatnya tidak rasional,  yang dirasakan dan dialami oleh seseorang. Perlu diketahui bahwa Phobia merupakan suatu penyakit gangguan jiwa yang ditandai oleh ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap suatu obyek atau situasi tertentu, di antaranya takut ketinggian (alto phobia), takut air (hydro phobia), takut jenis binatang seperti anjing, kecoa, tikus, ular (zoophobia), termasuk takut ketika berbicara di depan publik atau ketika melakukan komunikasi marketing (Lalio phobia) dan sebagainya yang menjadi fenomena dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam praktek yang saya temui, terkadang penderita phobia seperti saya, enggan untuk disembuhkan. Penderita biasanya cenderung lebih memilih menghindari sumber phobia tersebut, dan cenderung berusaha tetap merasa nyaman dengan kondisi yang ada pada dirinya. Seperti saya, dari pada berisiko, obat saya tumbuk jadi puyer, selesai. Di sinilah tantangan bagi seorang praktisi terapis untuk dapat memberikan pengertian tentang manfaatnya, jika masalah phobia dalam dirinya dapat diatasi. Hidupnya menjadi lebih nyaman dan tidak lagi digelayuti perasaan takut berlebihan, bahkan tidak jadi olokan orang lain.  

Dalam praktek penanganan terapi kepada penderita phobia selama ini saya menggunakan metode ICT atau Hipnoterapi, kadang satu saja sudah cukup. Penyembuhan dengan metode Terapi ICT, penderita tak perlu dibuat masuk kondisi hipnosis Alfa atau Teta seperti hipnoterapi. Cukup dengan ngobrol saja dalam menggali pemicu masalah dengan melakukan regresi usia menarik mundur ke beberapa tahun silam. 

Setelah ditemukan kemudian dimasukan install program terapinya. Cara kerja pemberesan masalah seperti cara kerja anti virus komputer. Keberhasilan  dalam melakukan terapi penyembuhan phobia sangat tergantung dengan keyakinan klien, dan kemampuan dalam menggali masalah dari sang terapis. 

Agar hasil terapi berjalan efektif, terlebih dahulu saya menggali permasalahan sipenderita phobia, saya menggunakan acuan dari rekomendasi John G. Kappas PhD. yang mengemukakan adanya 5 sindrom utama yang dialami tubuh fisik berkaitan dengan masalah emosi yang pada umumnya kita alami. 

Lima sindrom tubuh seperti yang saya kutip dari Ariesandi dalam panduan workshop ICT berdasarkan simtom (gangguan) fisiologis dan psikologisnya meliputi ;  The crying syndrome (sindrom menangis), Responsibility Syndrome (sindrom tanggung jawab), Sexual Frustration or Guilt Syndrome (frustrasi seksual atau perasaan bersalah), Fight or Reaching Syndrome (sindrom perlawanan atau pencapaian) dan Flight Syndrome (sindrom pelarian diri).


Simtom adalah manifestasi dari penyakit (gangguan) yang mungkin dialami secara internal, misalnya ketakutan yang timbul pada penderita neurotik, yaitu orang yang selalu diliputi kecemasan tentang kemungkinan mendapat serangan jantung atau juga penyakit (gangguan) yang dapat diobservasi secara eksternal, seperti orang yang mengeluarkan banyak keringat pada saat mengalami kecemasan. Sementara pengertian sindrom adalah suatu pola simtom-simtom yang terorganisasi dan dengan cara-cara tertentu berhubungan satu sama lain yang memungkinkan kita dapat membedakan gangguan mental yang satu dengan gangguan mental yang lainnya.

Selama ini terapi phobia yang saya lakukan dengan menggunakan metode ICT hasilnya memuaskan. Kegagalan terapi ICT ini dimungkinkan terjadi, karena adanya simtom (gangguan) lain yang tidak tergali sehingga satu simtom teratasi, tetapi simtom intinya tidak teratasi, maka terapi tidak memberikan hasil optimal. Sepanjang sumber masalah dapat ditemukan dan dibereskan dengan baik, maka kesembuhan dapat bersifat permanen. 


Memahami Penyakit Psikosomatis

Apa sih penyakit psikosomatis itu ? Dedi Susanto di dalam bukunya Pemulihan Jiwa mengatakan, psikosomatis terdiri atas dua kata yaitu, kata “Psycho” yang artinya jiwa atau psikis, kejiwaan manusia  dan kata  “Somatic” yang artinya tubuh, fungsi organ tubuh, biologis tubuh manusia. Jadi jika kedua kata tersebut digabung menjadi Psikosomatis  yang dapat diterjemahkan sebagai sebuah hubungan antara jiwa dan tubuh. 

Definisi psikosomatis secara lengkap adalah bentuk konversi gejolak jiwa terhadap tubuh, gejolak jiwa yang berubah bentuk menjadi gejolak di tubuh. Contohnya, penyakit migraine, susah tidur, dan problem berat badan adalah jelmaan dari gejolak jiwa. Jiwa yang tidak dikelola dengan baik, jiwa yang tidak dijaga, seperti munculnya rasa tidak puas, marah, iri, dengki, dan benci. Bila tidak dipecahkan dengan baik, tidak diklarifikasi, dan tidak diterapi dengan baik, yang akan terjadi adalah tubuh sakit. Jadi, semacam kita mengorbankan tubuh ini dan ini sungguh sebuah kerugian besar.

Menurut pakar mind technology, Adi W Gunawan mengutip dari The American College of Family Physicians dalam Kompas.com mengatakan bahwa, "Sekitar 90 persen penyakit disebabkan faktor psikogenik, bukan organik. Jadi bisa dikatakan, kondisi psikis mendominasi keadaan tubuh," Hal ini disampaikan Adi W Gunawan pada media workshop bertajuk, Menavigasi Pikiran dengan Hipnoterapi Klinis, di Jakarta, Rabu 13 November 2013. Sedikitnya ada 15 emosi penyebab  psikosomatis antara lain memori sakit, konflik diri, menghukum diri, masa lalu atau masa kini yang tidak terselesaikan, harga diri yang mengalami trauma, dan empat jenis emosi negatif. Yang termasuk emosi negatif  di antaranya rasa malu, bersalah, marah, dan takut. Rasa marah meliputi jengkel, benci, dendam, frustasi, sakit hati, dan tersinggung. Rasa malu, menurut Adi, adalah emosi destruktif penyebab penyakit psikosomatis paling besar.   

Menurut Dr. Ibrahim Elfiky dalam buku Terapi Berpikir Positif mengungkapkan penelitian Energy Medicine Dr. Herbert Spencer dari Universitas Harvard, yang menyatakan bahwa jiwa dan tubuh itu saling melengkapi. Herbert juga mengatakan bahwa lebih dari 90% penyakit tubuh disebabkan oleh jiwa. Inilah yang disebut dengan Psycho-Somatic. Disebutkan bahwa apa yang dipikirkan oleh jiwa berpengaruh pada seluruh anggota tubuh bagian luar, baik pada ekspresi wajah maupun gerakan tubuh. Pikiran jiwa berpengaruh pada anggota tubuh bagian dalam, seperti bertambahnya detak jantung, suhu tubuh, proses bernapas, dan tekanan darah yang ikut memengaruhi liver, ginjal, limpa, lambung, paru-paru dan lain-lain.

Dan menurut Willy Wong dalam buku Dahsyatnya Hipnotis mengatakan, banyak penyakit yang memang disebabkan oleh kelalaian manusia, misalnya akibat tidak menjaga pola hidup sehat atau karena ada serangan-serangan dari luar seperti virus, bakteri, dan lain-lain, yang akhirnya membuat tubuh kita sakit. Namun, selain kedua hal tersebut, ada hal-hal yang memang bersifat non medis yang menyebabkan tubuh kita “sakit”. Penyakit ini disebabkan oleh akumulasi pikiran-pikiran bawah sadar yang dalam bahasa psikologinya sering disebut dengan “psikosomatis”.